kepada Diskotik Metropolitan Djakarta dan Laut
perpisahan kali ini hambar,tak berasa. Tanpa sedih air mata,atau segala kekalutan tentang nya. Kesenangan juga tak berego.
aku masih diterpa angin sepoi yang terkadang amat besar..
Sendja..pantai itu berbisik. Aku melepasmu, .
"Maaf sampai sini saja."
telah lama aku bersamamu,tapi aku tak mengenalmu.
Aku tahu ini mencengangkan,.tapi aku memang tak sanggup lagi bersamamu atau bahkan mengabdimu.
aku bukan membisu dan maaf kalau hanya terlihat seperti silhoutte siddharta atau seperti pure suci yang hening di ULUWATU.
--sendja kala itu,gelombang laut tak tenang menyalurkan energinya ke gundukan bertriliunan butiran bahkan lebih atau takkan terhitung.. pasir..,ini disebut tepian atau pantai.angin masih membelaiku semesra kekasih ku..melancholic,hening dan menenagkan--
"Aku mendengar deru mu,merasakan angkuhmu,butir-butir energimu yang bergumul membentuk ombak dan mengaduh..aku juga melihat jejak-jejak langkahku berhianat padaku..aku juga merasakannmu pasir...walau kau sering berkonspirasi dengan laut mengahapus semua yang tercitra di tubuhmu.."
"kau membuat kekal semua yang tak kekal."dan aku kini berteriak lirih dalam hatiku..kau penghianat!kau melecehkanku!
aku terus melangkah,.semakin dalam terhanyut pada kesadaran tentang keberadaanmu
--------------------------
sebelum hari ini,..selama aku bersamamu,selama aku tak tahu siapa dirimu dan itu membutakan ku tentang siapa aku..aku bagai tersesat di diskotik metropolitan,aku mencari percuma,aku memanggil percuma,aku berteriak namamu percuma,aku diam percuma,aku bingung gelisah percuma,lalu aku mau apa percuma..tak kan bisa menemukan.ini terlalu mustahil..kukira sungguh mustajab,ruang disko ini terlalu chaos dan suaraku pun mati di beku deru rave music,gelak tawa bahagia,dan adu gelas 'salam persahabatan',juga para sundal yang bermanuever.
telephone genggammu pun kau matikan.
kau tahu rasa dimana semua kobaran emosi batin dan riak jiwamu memuku-mukul palung kesadaranmu?
kurasa aku akan masuk rumah sakit jiwa karena krisis kewarasan jiwa.aku ingin menggigit jari-jariku atau menhantamkan nya ke tembok berduri dan setelah kepalanku menancap,lalu aku akan segera menariknya kebawah biar semakin dalam lukaku dan semakin aku senang luka itu merobek tanganku.
"aku di pusaran mu....laut yang murka"
--------------------------
aku tak mencoba melupakanmu atau naif..tapi gambar tentangmu masih saja menghuni benakku.aku seperti memiliki home theatre dalam kepala ku.dan seolah kau film yang terus bersambung tapi kadang kau loncat episode..aku kadang bingung mereka-reka mu dalam jiwa atau batinku.
kau masih bagianku.bagian sel-sel hidupku.
"ah tubuhku tak mau kompromi kali ini,terlalu banyak mendaki tangga IMOGORI dan mengulang jejak di pasir mu barang kali,aku capek,kakiku kesemutan.tapi kupustuskan bertekad disini saja.aku benar-benar ingin penghujung ini.pelepasan ini."



Tidak ada komentar:
Posting Komentar